MEMBUMIKAN BUDAYA MENELITI DI BABEL


Pada bulan Januari lalu Kemendikbud melalui Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), baru saja menerbitkan peraturan yang mengharuskan mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 menerbitkan karya ilmiah sebagai salah satu syarat kelulusan. Dalam Surat Edaran Nomor 152/E/T/2012 yang ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN/S seluruh Indonesia, Dikti mengharuskan mahasiswa program Sarjana menerbitkan makalah di jurnal ilmiah lokal. Mahasiswa program Master harus menerbitkan makalah di jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi Dikti. Adapun mahasiswa program Doktor harus menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional. Dan tentu saja kebijakan ini diberlakukandalam rangka upaya peningkatan kualitas pendidikan nasional.

Upaya membumikan budaya meneliti ini, sejak pertama diterbitkannya surat edaran dari Kemendikbud kepada seluruh PTN/PTS diseluruh Indonesia ternyata masih menuai berbagai kontroversi dari berbagai kalangan. Beberapa pihak perguruan tinggi pun sangat beragam nenanggapi kebijakan ini. Bagi perguruan tinggi yang pro terhadap kebijakan ini tentu menyambut baik adanya kebijakan diwajibkannya publikasi ini karena setidaknya dapat meminimalisir plagiat. Tetapi bagi perguruan tinggi yang kontra, munculya kebijakan ini harusnya dipertimbangkan secara matang dengan dalih bahwa kualitas perguruan tinggi di Indonesia tidak sama, baik dari segi SDM dosen, mahasiswa, dukungan finansial, maupun fasilitas. Terlepas dari berbagai kontroversi tersebut dalam hal ini penulis melihat persoalannya bukan terletak pada perlu atau tidaknya dikeluarkannya kebijakan ini, tetapi lebih pada persiapan masing-masing perguruan tinggi. Kesiapan perguruan tinggi dalam merespon kebijakan ini sangat berhubungan dengan kondisi SDM maupun fasilitas perguruan tinggi.

Budaya Meneliti Masih Rendah

Rendahnya mutu penelitian mahasiswa di perguruan tinggi sedikit banyak dipengaruhi oleh mutu penelitian dosennya. Oleh karenanya, dalam hal ini diharapkan Kemendikbud juga seharusnya memberikan instruksi kepada seluruh perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kompetensi meneliti para dosen melalui diklat, seminar, ataupun workshop. Selain itu, alokasi dana untuk penelitian di Indonesia saat ini masih sangat minim yaitu hanya 1,6 persen dari APBN. Komitmen Indonesia terhadap pengembangan ilmu pegetahuan masih sangat minim jika dibandingkan dengan Negara tetangga seperti Malaysia yaitu mencapai 4 persen lebih. Singkatnya, pemerintah pusat melalui Kemendikbud seharusnya dapat lebih mempertimbangkan dalam alokasi dana pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian. Kebijakan ini juga harusnya didukung oleh setiap pemerintah daerah agar mengalokasikan sebagian APBD mereka untuk pengembangan penelitian.

Munculnya kebijakan diharuskanya mahasiswa S-1, S-2, dan S3 mempublikasikan karya ilmiah mereka ternyata dilatarbelakangi oleh masih lemahnya budaya meneliti di perguruan tinggi, baik dikalangan dosen maupun mahasiswanya. Hasil penelitian SCImago (Kompas, 9 Desember 2010), melaporkan jumlah publikasi hasil penelitian Indonesia pada 1996-2008 lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia yang selama ini kurang dikenal kehidupan akademiknya dan menempatkan Indonesia pada posisi ke-64 dari 234 negara yang disurvei. Jumlah publikasi Indonesia pada rentang 12 tahun itu mencapai 9.194 dokumen. Publikasi ilmiah Indonesia kalah dibandingkan Arab Saudi, Pakistan, dan Banglades, masing-masing menduduki urutan ke-49, 50, dan 63. Negara penghasil publikasi ilmiah terbanyak adalah Amerika Serikat dengan 4,3 juta dokumen.

Jepang menjadi negara Asia dengan jumlah publikasi terbanyak dan menduduki urutan ketiga dunia dengan 1,2 juta dokumen. Di Asia Tenggara, jumlah publikasi penelitian Indonesia kalah dibandingkan Singapura (peringkat ke-31), Thailand (42), dan Malaysia (48). Pada 2002, publikasi penelitian ketiga negara tersebut mengalami lonjakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, publikasi penelitian Indonesia justru mengalami stagnasi hingga kini. Berangkat dari data diatas, ternyata Indonesia belum bisa secara optimal berkompetisi di tingkat global, bahkan masih jauh tertinggal dengan Negara- Negara di Asia. Dengan adanya kebijakan ini diharapkan dapat mendorong para mahasiswa dan akademisi di perguruan tinggi untuk menelurkan karya ilmiah yang berkualitas.

Potensi di Babel

Secara umum geliat penelitian khususnya di Babel tergolong masih rendah. Hal ini terlihat jarangnya para akademisi dari perguruan tinggi di Babel mempublikasikan hasil penelitiannya ke masyarakat melalui seminar atau pertemuan ilmiah lainnya. Publikasi hasil penelitian hanya sebatas intern masing-masing perguruan tinggi. Padahal potensi meneliti di Babel terbuka lebar bagi para dosen, peneliti, dan mahasiswa. Lembaga-lembaga penelitian di Babel walaupun mungkin ada, tetapi peran dan kontribusinya juga masih belum terlihat. Padahal menurut UNESCO menyatakan bahwa, budaya penelitian sebuah Negara berbanding lurus terhadap kemajuan ekonomi Negara tersebut.

Hasil satu penelitian bisa menciptakan jutaan lapangan kerja jika ditangani serius. The University of Texas contohnya, dari hasil berbagai penelitian dan inisiatif lain dari universitas, tiap tahunnya memberikan dampak 7.4 miliar dolar Amerika terhadap ekonomi lokal dan nasional dengan dibukanya pusat penelitian dan pabrik baru yang bisa membuka jutaan lapangan kerja. Berdasarkan data Dikti, saat ini terdapat 114 perguruan tinggi negeri dan 301 perguruan tinggi swasta. Ratusan perguruan tinggi tersebut bisa menjadi kekuatan ekonomi bangsa Indonesia jika mampu menelurkan penelitian dan karya ilmiah yang bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan kualitas sektor lain, seperti pendidikan.

Lantas bagaimana dengan partisipasi meneliti perguruan tinggi di Babel?. Walaupun Babel merupakan salah satu provinsi yang relatif muda tidak menutup kemungkinan untuk bisa berkompetisi menghasilkan penelitian yang berkualitas dari daerah lain. Saat ini Babel telah memiliki Universitas dan beberapa Sekolah Tinggi, Politeknik, dan Akademi-Akademi. Beberapa perguruan tinggi ini merupakan modal dalam mengembangkan budaya meneliti. Babel punya banyak objek dan permasalahan yang dapat menjadi kajian penelitian. Dalam bidang pertanian misalnya, Babel saat ini masih terkenal dengan penghasil ladanya. Universitas Bangka Belitung (UBB) dalam hal ini dapat menjadi salah satu Universitas yang concern dalam mengembangkan produksi lada melalui Research and Development (Penelitian dan Pengembangan). Dan beberapa fakultas atau jurusan yang dikembangkan di UBB setidaknya telah mempunyai relevansi dengan potensi lokal yang ada di Babel mulai dari pertanian, pertambangan, sosial budaya, ekonomi, hukum, dan lainnya. Dalam hal penguatan teknologi industri kita punya Politeknik Manufaktur (POLMAN) Timah yang diharapkan melalui penelitiannya dapat menghasilkan teknologi produksi tepat guna sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemerintah dan masyarakat.

Dalam bidang kesehatan, saat ini kita punya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) yang jika hasil penelitian mereka dalam bidang kesehatan dapat dioptimalkan setidaknya dapat memberikan informasi dan gambaran bagaimana kondisi masyarakat Babel dari segi kesehatannya sehingga dalam hal ini pemerintah daerah melalui Departemen Kesehatan dapat merumuskan kebijakan dan program-program kesehatan masyarakat. Mengimbangi kemajuan global menuntut penguasaan Teknologi Informasi yang memadai. Untuk mendukung hal tersebut kita punya STIMIK yang diharapkan juga melalui hasil penelitiannya dapat bekerjasama dengan Pemda dalam mewujudkan masyarakat Babel yang melek teknologi informasi. Sedangkan dibidang pendidikan dan sosial keagamaan kita punya Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang melalui hasil penelitiannya juga dapat membantu Pemda dalam rangka pembinaan dan penguatan sumber daya manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan.

Mengoptimalkan hasil riset atau penelitian khususnya di Babel dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan di Bumi Serumpun sebalai ini baik pembangunan SDM-nya, pembangunan ekonomi, dan infrastruktur. Mengoptimalkan hasil penelitian juga akan memberikan arah menetapkan kebijakan di Babel sehingga setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemda benar-benar tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh Pemda dalam upaya membangun Babel jika budaya meneliti ini terus digalakkan dengan melibatkan peran serta perguruan tinggi di Babel. Secara birokrasi mungkin Pemda melalui Dinas Pendidikan dapat mendukung semua perguruan tinggi maupun lembaga penelitian di Babel untuk mendorong para Dosen agar terus melakukan penelitian.

Dimulai Sejak Dini

Pendidikan yang diselenggarakan di sekolah pada prinsipnya bertujuan untuk melahirkan generasi muda yang mampu menjadi agent of change. Generasi muda yang membawa kemajuan bangsanya ke arah yang lebih baik. Salah satunya dengan menumbuhkembangkan minat dan bakat meneliti pada siswa-siswi. Dalam hal ini Karya Ilmiah Remaja (KIR) dapat menjadi salah satu wadah bagi siswa untuk menumbuhkembangkan minat dan bakat siswa pada penelitian. Di Babel KIR yang merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler siswa yang umumnya terdapat di SMA/K atau MA dirasa masih belum optimal. Bahkan ada beberapa sekolah yang tidak membuka ekstrakurikuler KIR ini. Karena dimungkinkan rendahnya kompetensi meneliti guru yang terdapat disekolah. Oleh karena itu, penting kiranya perguruan tinggi di Babel menjadi mitra sekolah dalam rangka peningkatan kualutas meneliti guru pembimbing KIR.

Selain itu, untuk membudayakan meneliti sejak dini Pemda melalui Dinas Pendidikan secara gradual menyelenggarakan kompetisi karya tulis ilmiah remaja mulai dari tingkat kabupaten/kota dan provinsi sampai dengan mengirim siswa-siswi terbaik Babel untuk berkompetisi di tingkat Nasional. Menumbuhkan minat meneliti juga sangat mungkin dilakukan pada jenjang pendidikan dasar seperti di SD/MI dan SMP/Mts dengan menerapkan pendekatan belajar konstruktivistik. Yaitu model belajar yang menekankan pada eksplorasi kemampuan individu dan membangun pengetahuan secara mandiri. Salah satu bentuk penugasan model belajar ini salah satunya dapat dilakukan melalui tugas proyek, investigasi, maupun mini eksperimen. Melalui tugas proyek siswa diminta untuk melakukan mini research terhadap masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa dengan cara merumuskan masalah dan melakukan observasi atau wawancara dan membuat laporan. Tentunya proses pembelajaran seperti ini harus mendapat bimbingan dari guru mata pelajaran.

Membumikan budaya meneliti di Babel diharapkan tidak hanya menjadi wacana semata, tetapi harusnya menjadi komitmen bersama perguruan tinggi maupun Pemda. Jika budaya penelitian suatu negara ternyata berbanding lurus terhadap kemajuan ekonomi suatu Negara sebgaimana yang diuangkapkan oleh UNESCO diatas, maka tidak berlebihan jika upaya membumikan budaya meneliti di Babel menjadi suatu hal yang sangat mendesak untuk diwujudkan. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s