MEDIA BELAJAR BERBASIS ICT


MEDIA BELAJAR BERBASIS ICT

Oleh : Dinar Pratama

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan

PENDAHULUAN

Dalam dasawarsa terakhir, bidang informasi dan telekomunikasi mengalami kemajuan khususnya untuk perangkat audiovisual, mobile phone dan komputer. Teknologi tersebut secara langsung maupun tidak langsung telah mengubah cara hidup masyarakat dan berpengaruh terhadap beberapa aspek kehidupan. Hampir di segala lini kehidupan manusia sekarang telah memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, salah satunya di dalam dunia pendidikan. Dewasa ini, teknologi informasi telah banyak dimanfaatkan dan dikembangkan oleh para pakar pendidikan sebagai media belajar. Proses pembelajaran tentunya tidak akan selalu berjalan dengan optimal jika tidak ditunjang dengan media yang memadai. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam Maria Ulpah menyebutkan bahwa media pembelajaran adalah alat Bantu yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pengajar, peserta didik, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampaian pesan atau media. Jadi, sebagai alat Bantu media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pembelajaran.

Oleh karena media pembelajaran sangat menentukan hasil proses pendidikan, maka guru, dosen, maupun para praktisi pendidikan mesti senantiasa membuat inovasi baru dalam penggunaan media pembelajaran. Sehingga tujuan dari penggunaan media itu sendiri dapat berjalan optimal, yaitu membantu tercapainya pembelajaran yang efektif dan efesien.

Media belajar yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi dalam konteks pendidikan saat ini telah banyak diperbincangkan bahkan implementasinya juga sudah dirasakan bagi peningkatan kualitas proses pembelajaran khususnya disekolah maupun di perguruan tinggi. Di Negara-negara maju seperti Amerika saat ini telah lama menggunakan teknologi informasi dalam rangka menunjang proses pembelajaran. Wahyu Purnomo dalam makalahnya menyebutkan bahwa, mendayagunakan teknologi komunikasi dan informasi di sekolah adalah salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berbagai penelitian baik di dalam maupun di luar negeri menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk media berbasi ICT dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Bersamaan dengan itu, pada generasi elearning ini, kesadaran masyarakat akan proses belajar mengajar dengan menggunakan media ICT akan semakin besar. Berangkat dari keadaan tersebut, saat ini juga merupakan waktu yang tepat untuk merangsang masyarakat agar mulai menggunakan teknologi dalam upaya pengembangan sumber daya manusia.

Berangkat dari beberapa realitas dan kemungkinan tantangan yang akan di hadapi oleh generasi kita di masa mendatang maka perlu ditumbuhkan kesadaran masyarakat, guru, dosen, maupun praktisi pendidikan untuk lebih memberi perhatian pada peningkatan kuantitas dan kualitas media pembelajaran berbasis ICT dan pemanfaatannya lebih khusus di lingkungan sekolah dan lembga pendidikan lainnya.

PENGERTIAN DAN FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN

Istilah media berasal dari bahasa latin yang mempunyai arti “antara”. Makna tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa suatu informasi dari suatu sumber kepada penerima. Sedangkan menurut Wina Sanjaya secara umum media merupakan kata jamak dari “medium”, yang berarti perantara atau pengantar. Kata media berlaku untuk berbagai kegiatan atau usaha, seperti media dalam penyampaian pesan, media pengantar magnet atau panas dalam bidang teknik. Dan istilah media juga digunakan dalam bidang pendidikan, dalam hal in pengajaran. Ada banyak defenisi yang diungkapkan oleh beberapa pakar dalam mendefenisikan media pembelajaran. Berikut ini beberapa defenisi atau konsep media pembelajaran menurut para pakar. Menurut Association of Education and Communication Technology (AECT) media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyalurkan pesan atau informasi. Apabila dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran maka media dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi dari pengajar ke peserta didik.

Rossi and Briedle (1996) dalam Wina Sanjaya mengemukakan bahwa, media pembelajaran  adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya. Menurut Rossi alat-alat tersebut jika digunakan dan diprogram untuk pendidikan maka dapat dikatakan sebagai media pembelajaran. Lain hal nya dengan Gerlach and Ely mengunkapkan defenisi media pembelajaran lebih luas, yaitu tidak hanya terpusat pada alat dan bahan semata, melainkan human atau manusia juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Gagne mengartikan media sebagai berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Selain dari pengertian diatas ada juga yang membagi defenisi media pembelajaran menjadi dua pengertian. Dalam hal ini, Daryanto membagi defenisi media pembelajaran kepada media intruksional dan media transfer informasi. Media instruksional yaitu segala sesuatu yang dapat dipakai untuk memberikan rangsangan sehingga terjadi interaksi belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan instruksional tertentu. Sedangkan media transfer informasi merupakan alat yang dapat digunakan untuk menyajikan/menyampaikan informasi kepada pihak lain (peserta/penerima informasi).

Dari defenisi yang telah dipaparkan para pakar diatas maka dapat disimpulakan bahwa, ada dua hal yang perlu digaris bawahi dalam mendefenisikan media pembelajaran, yaitu segala sesuatu yang berupa alat atau benda dan atau segala sesuatu yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Jadi media pembelajaran adalah segala bentuk alat maupun media komunikasi yang dapat digunakan atau diprogram untuk mencapai tujuan dari kegiatan pembelajaran.

Telah diterangkan diawal bahwa, kedudukan ICT di era modern saat ini mempunyai peran yang sangat strategis dalam rangka peningkatan taraf hidup manusia. Perkembangan teknologi, baik dirasakan langsung maupun tidak manfaatnya sejauh ini telah banyak memberikan kontribusinya dalam berbagai bidang, tak terkecuali pendidikan. Dahulu pendidikan khususnya di sekolah dalam proses pelaksanaanya masih terkesan konvensional. Pendidikan masih bersifat monolog (transfer of knowladge) dan fasilitas belajar yang terkadang kurang memadai. Hal ini menyebabkan kurangnya kreativitas siswa dan guru dalam memenuhi suplemen belajar. Kini, teknologi hadir sebagai bentuk inovasi baru dalam upaya untuk meningkatan mutu pembelajaran dan pendidikan pada umumnya. Pembelajaran dengan mengoptimalkan teknologi, apapun bentuknya saat ini menjadi keharusan dalam rangka mempersiapkan SDM yang mempunyai daya saing global. Ini artinya, siswa disamping dibekali dengan ilmu pengetahuan, mereka juga hendaknya diimbangi dengan kemampuan dalam mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi.

Berdasarkan penelitian UNESCO dan World Bank bahwa pada negara berkembang sangat diperluakan adanya perubahan pendekatan dan paradigma pembelajaran. Jika tidak demikian, negara berkembang tidak akan mampu bersaing di era ekonomi yang berlandaskan ilmu pengatahuan (knowladge economic era). Era tersebut mengharuskan pekerjanya secara cepat menemukan berbagai informasi yang diperlukan, menimbang, dan mengevaluasi informasi tersebut agar memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan tidak bias, serta mempergunakan informasi tersebut untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.

Pemanfaatan ICT dalam konteks pendidikan pada dasarnya lebih cenderung pada proses pembelajaran itu sendiri. Terlepas dari ada sebagian sekolah yang memanfaatkan ICT dalam bidang administrasi sekolah. Hal ini tidaklah salah, karena dengan menggunakan fasilitas ICT setidaknya manajemen pengelolaan administrasi di sekolah dapat berjalan dengan mudah, cepat, dan efesien. Sehingga pelayanan di sekolah kepada guru, siswa, orang tua siswa, dan stake holder dapat terlayani dengan optimal. Pembelajaran yang memanfaatkan ICT ini biasanya menggunakan perangkat hardware dan software dalam aplikasinya seperti, perangkat komputer yang tersambung dengan jaringan internet, LCD, projektor, CD pembelajaran, Televisi, bahkan menggunakan web atau situs-situs tertentu dalam internet.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam memanfaatkan pembelajaran yang berbasis ICT. Saat ini, telah banyak model-model pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan ICT. Diantara beberapa macam pendekatan tersebut, tentunya tidak semua dapat diterapkan sekaligus dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, pihak sekolah maupun guru harus memilih mana media belajar yang tepat sesuai dengan meteri belajar dan potensi siswa.

Dalam pembelajaran berbasis ICT, selain menggunakan perangkat komputer yang dilengkapi dengan software nya, juga untuk mendukung kinerja ICT haruslah didukung dengan jaringan internet yang memadai. Hal ini akan memungkinkan para siswa dan guru melaksanakan aktivitas pembelajaran tidak harus selalu bertatap muka secara langsung, akan tetapi bisa dengan cara online yang tekoneksi dengan jaringan internet. Pembelajaran seperti ini juga memungkinkan para siswa untuk dapat belajar lebih mandiri dan mengeksplor pengetahuan tidak hanya terpaku pada materi yang diberikan oleh guru di kelas. Para siswa dapat memanfaatkan internet untuk memperkaya materi pelajaran. Pembelajaran yang biasanya memanfaatkan internet ini dikenal dengan e-learning. Saat ini penggunaan e-learning telah banyak dikembangkan oleh beberapa sekolah, terutama pada sekolah bertaraf internesional yang dalam standar operasionalnya diharuskan menerapkan pembelajaran berbasis ICT. Dalam hal ini penulis akan memberikan sedikit gambaran dari model pembelajaran e-learning yang terdiri dari konten dan aplikasinya.

Defenisi mengenai media pembelajaran diatas dapat juga dilihat bahwa media pembelajaran mempunyai fungsi untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal. Dan salah satu indikator tercapainya proses pembelajaran yang optimal tersebut adalah peserta didik mendapatkan pengalaman belajar. Dalam hal ini, untuk memahami peranan media dalam proses mendapatkan pengalaman belajar bagi peserta didik, Edgar Dale dalam Wina Sanjaya melukiskannya dalam bentuk kerucut yang kemudian dinamakan kerucut pengalaman (cone of experience). Kerucut pengalaman yang dikembangkan oleh Edgar Dale ini telah secara luas dijadikan dasar dalam menentukan media atau alat Bantu apa yang sesuai dengan peserta didik agar memperoleh pengalaman belajar secara mudah. Berikut ini gambar kerucut pengalaman yang dikembangkan oleh Edgar Dale :

Dari kerucut diatas dapat dilihat bahwa semakin konkrit peserta didik mempelajari bahan pengajaran, maka semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh peserta didik. Contohnya melalui pengalaman langsung. Dan sebaliknya, semakin abstrak peserta didik memperoleh pengalaman, maka semakin sedikit pengalaman yang akan diperoleh peserta didik. Contohnya pengajaran yang hanya disampaikan dengan kemampuan verbal. Edgar Dale mengurutkan tingkat memperoleh pengalaman belajar dari yang paling rendah sampai ke yang paling tinggi. Semakin langsung objek yang dipelajari, maka semakin konkrit pengetahuan diperoleh. Dan semakin tidak langsung pengetahuan itu diperoleh, maka semakin abstrak pengetahuan siswa.

Mempertimbangkan kerangka pengetahuan ini, maka kedudukan komponen media pengajaran dalam proses belajar mengajar mempunyai fungsi yang sangat penting. Sebab tidak semua pengalaman belajar dapat diperoleh secara langsung. Dalam konteks ini, media dapat digunakan agar lebih memberikan pengetahuan yang konkret dan tepat serta mudah dipahami.

MODEL PEMBELAJARAN E-LEARNING

Tidak dapat dielakkan lagi perkembangan komunikasi saat ini terus berkembang dan berinovasi dalam menjawab problema kehidupan manusia sekaligus memberikan alternatif berbagai kemudahan. Menurut Budi Sutedjo, (2002 : 49), gelombang teknologi dan informasi yang berbasis internet berkembang melalui beberapa tahapan sebagai berikut :

1)    Gelombang pertama, pemanfaatan TI difokuskan untuk meningkatkan produktivitas dan memperkecil biaya. Aplikasi yang digunakan antara lain, word, Excel, Power Point, dan Access.

2)    Gelombang kedua, TI difokuskan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan peralatan komputer melalui pembangunan jaringan komputer. Jaringan ini dibangun dengan cara menghubungkan computer-komputer dengan menggunakan kabel dan kartu jaringan sehingga printer, hardisk, dan eralatan lain dapat digunakan secara serempak. Jaringan ini dapat menghemat biaya investasi dan mempercepat distribusi data dan informasi.

3)    Gelomang ketiga, TI difokuskan untuk menghasilkan keuntungan lewat pembangunan system informasi. seperti pada sebuah universitas membangun jaringan system informasi pelayanan administrasi, akademik, system informasi keuangan, maupun system informasi pelayanan umum, yang kesemuanya berbasis teknologi informasi dan menguntungkan bagi pihak universitas maupun mahasiswa yang dilayani.

4)    Gelombang keempat, TI difokuskan untuk proses pengambilan keputusan dari data kualitatif. Seperti pembangunan system pendukung keputusan (DDS/Decision Suport System), bagi penerimaan pegawai, penilaian prestasi pegawai, peningkatan janjang karir pegawai, dan lain sebagainya.

5)    Gelombang kelima, TI difokuskan untuk meraih pelanggan melalui pengembangan jaringan internet. Membangun eksplorasi besar-besaran terhadap internet. Maka dalam hal ini lahirlah dalam dunia bisnis apa yang disebut electronic buesness (ebuesness) dan ecommerce. Dalam sistem pendidikan berbasis internet, apa yang disebut e-learning, e-campus, e-school, yang mampu menjangkau para pengguna jasa pendidikan baik lokal, nasional maupun global.

6)    Gelombang keenam, TI yaitu mengembangkan sistem jaringan tanpa kabel (wireless). Sistem tersebut memungkinkan seseorang mengakses internet melalui komputer yang terhubung ke telepon seluler. Bahkan internet dapat diakses langsung lewat ponsel. Gelombang inovasi ini menunjukkan bahwa TI dapat digunakan untuk komunikasi efektif dengan konsumen dan mitra kerjanya.

Dari tahapan perkembangan teknologi informasi yang berbasis internet diatas setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa, TI akan terus berkembangan sesuai dengan dinamika kehidupan manusia. Setidaknya manfaat yang dapat kita ambil dari perkembangan TI ini adalah kegiatan komunikasi dan informasi akan semakin efektif dan cepat dengan adanya internet. Jarak bukan lagi menjadi suatu masalah adalam menjalin komunikasi. Kemajuan internet ini juga seharusnya dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan dalam rangka peningkatan dan efesiensi proses pembelajaran. Untuk mengimbangi dan mempersiapkan SDM yang kompetitif dan punya daya saing global, tentunya penguasaan TI khususnya internet menjadi suatu keharusan.

Menurut Suhariyanto dalam makalahnya ” Pembelajaran Berbasis ICT”, mengungkapkan bahwa, tanggung jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi baru ini yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Kemampuan untuk berbicara bahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua kriteria yang biasa diminta masyarakat untuk memasuki lapangan kerja baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Kurang lebih hanya sekitar 20% sampai dengan 30% lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke tingkat pendidikan lebih tinggi, maka dengan adanya komputer yang telah merambah disegala bidang kehidupan manusia hal itu membutuhkan tanggung jawab sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan kemampuan berbahasa  dan kemahiran komputer bagi siswa.

Pendidikan yang selama ini sering dilakukan oleh beberapa sekolah selain telah memanfaatkan TI juga masih ada sebagian dari sekolah yang belum dapat memanfaatkan kecanggihan TI. Pola pembelajaran konvensional pada dasarnya memang masih ada yang relevan dengan kondisi saat ini. Akan tetapi, pembelajaran akan lebih bermakna jika guru ataupun dosen dapat mengoptimalkan media pembelajaran yang lebih inovatif. Dalam hal ini, pembelajaran tidak hanya terpaku dalam kelas saja. Metode pengejaran konvensional biasanya lebih cenderung stastis seperti ceramah, drill, tugas, dan mencatat. Hal ini tentu akan berdampak pada siswa yang kurang berminat dalam mengikuti pelajaran, karena metode pembelajaran yang disampaikan oleh guru tidak bervariatif sehingga menimbulkan kejenuhan bagi siswa.

Menurut Suhariyanto, ada beberapa kelemahan dalam pembelajaran yang bersifat konvensional, antara lain :

1)    Siswa sulit dalam menangkap dan memahami materi yang disampaikan dengan cara ceramah.

2)    Kurang dapat membangkitkan motivasi dan minat siswa dalam belajar.

3)    Kurang dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir kritis dan inovatif.

4)     Siswa dipaksa untuk belajar dengan cara yang sama dan tidak bersifat pribadi.

Jelas sekali bahwa, metode pembelajaran yang bersifat konvensional terkadang kurang memberikan efek positif bagi perkembangan pola belajar siswa, mereka terkesan kurang kreatif, kritis, dan monoton dalam belajar. Dengan tidak mengenyampingkan metode pembelajaran yang bersifat konvensional maka dalam hal ini penulis akan memberikan beberapa alternatif model pembelajaran yang memanfaatkan internet untuk menunjang proses belajar mengajar.

Menurut Haughey, (1998) dalam Suhariyanto, mengungkapkan bahwa pemanfaatan internet dalam media pembelajaran dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu :

1)    Web Course, yaitu:

Penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran, dimana seluruh bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui internet. Bentuk ini tidak memerlukan tatap muka baik untuk pembelajaran maupun evaluasi dan ujian. Proses pembelajaran sepenuhnya dilakukan melalui penggunaan e-mail, chat rooms, bulletin board dan online conference. Bentuk ini juga biasa digunakan untuk pembelajaran jarak jauh (distance education/learning). Aplikasi bentuk ini antara lain Virtual campus/university.

2)    Web Centric course, yaitu:

Sebagian bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, dan latihan disampaikan melalui internet, sedangkan ujian dan sebagian konsultasi, diskusi dan latihan dilakukan secara tatap muka. Dalam bentuk ini presentasi tatap muka lebih sedikit dibandingkan penggunaan internet. Pusat kegiatan pembelajaran bergeser dari kegiatan kelas melalui kegiatan melalui internet. Sama dengan web course siswa dan guru terpisah, tetapi pada waktu-waktu yang telah ditetapkan mereka bertatap muka. Bentuk ini banyak diterapkan diperguruantinggi-perguruan tinggi yang menerapkan sistem belajar off campus.

3)    Web Enhanced Course, yaitu

Pemanfaatan internet untuk pendidikan, untuk menunjang peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran di kelas. Bentuk ini juga dikenal dengan istilah web lite course, karena kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas. Bentuk ini lebih dominan kegiatan tatap muka dibanding penggunaan internet sebagai media pembelajaran. Bentuk ini dirujuk sebagai langkah awal untuk menyelenggarakan pembelajaran berbasis internet, sebelum menyelenggarakan pembelajaran dengan internet secara lebih kompleks.

Dari paparan diatas dapat dipahami bahwa, penggunaan internet pada adasarnya bukan pengganti sistem pembelajaran, akan tetapi internet digunakan sebagai penunjang kegiatan belajar agar lebih berkembang dan inovatif. Tentunya guru dalam hal ini perlu punya kemampuan yang memadai dalam mengoperasikan dan memanfaatkan media internet.

DAFTAR PUSTAKA

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif:Suatu Pendekatan Teoritis dan Psikologis, Edisi Revisi (Jakarta : Rineka Cipta, 2005),

Wahyu Purnomo, Pembelajaran Berbasis ICT, Makalah, 2008, http://wahyupur.blogspot.com, diakses tanggal 17 Juli 2010

Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009).

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Berorientasi Kepada Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenda Media Grup, 2008).

http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/05/media-pembelajaran.html, Diakses tanggal 19 Juli 2010

Daryanto, Panduan Proses Pembelajaran. Teori dan Praktik Dalam Pengembangan Profesionalisme Guru, (Jakarta : AV Publisher, 2009)

I Wayan Santyasa, Landasan Konseptual Media Pembelajaran, Makalah, 2007, http://edukasi.kompasiana.com, Diakses tanggal 19 Juli 2010

Eti Rocheaty, dkk, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), cetakan ketiga

Suhariyanto, Pembelajaran Berbasis ICT, (FKIP UNILA, 2009), Makalah, hlm. 17-16

<p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s