URGENSI ILMU PENDIDIKAN BAGI GURU


A. PENDAHULUAN

Penyelenggaraan pendidikan khususnya di Indonesia dari awal kemunculannya hingga saat ini banyak mengalami pasang surut, baik secara kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitas, semakin menjamurnya lembaga pendidikan di Indonesia, baik pada jalur formal, nonformal, maupun informal. Bahkan saat ini menurut catatan Balitbang Depdiknas (2001) dalam Indonesia Educational Statistic in Brief 2000/2001, jumlah SD di Indonesia mencapai 148.964 sekolah. Angka ini belum termasuk MI (Madrasah Ibtida’iyah) yang jumlahnya 21.454 sekolah. SMP dan MTs yang jumlahnya 30.716 lembaga. SMA dan SMK berjumlah 12.000 dan perguruan tinggi sekitar 2000 lembaga.

Data statistik perkembangan lembaga sekolah tersebut tentu merupakan jumlah yang sangat banyak. Akan tetapi, apakah julmah lembaga sekolah yang terus bertambah tersebut sejalan dengan peningkatan kualitas pendidikan?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut berikut ini akan di berikan beberapa hasil laporan yang menunjukkan mutu pendidikan negara didunia termasuk didalamnya Indonesia.

Berdasarkan laporan dari Bank Dunia (1998) tentang hasil tes membaca murid kelas VI SD, Indonesia berada di tingkat terendah di Asia Timur dengan skor 51,7%. Indonesia berada di bawah Filipina (52,6%), Thailand (65,1%), Singapura (74%), dan Hongkong (75,5%). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa Indonesia mengalami kesulitan menjawab soal-soal uraian yang memerlukan penalaran. Selain itu, prestasi bidang Matematika tahun 1999 (The Third International Mathematics and Science Study) memperlihatkan bahwa I antara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 di Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA dan ke-34 untuk Matematika. Survey The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) Hongkong menyimpulkan bahwa sistem pendidikan Indonesia berada di urutan ke-12 di Asia, setelah Vietnam.

Selain itu, peringkat Human Development Index (HDI) di Indonesia juga tergolong rendah dibandingkan negara-negara ASEAN, seperti yang tercantum dalam tabel berikut:

Negara Peringkat HDI
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Indonesia 96 102 109 102 110 112 111
Malaysia 60 56 61 56 59 58 59
Filipina 98 70 77 70 77 85 83
Singapura 28 26 24 26 25 28 25
Thailand 59 66 76 66 70 74 76

Peringkat HDI 5 Negara di Kawasan ASEAN.

Data-data tersebut menunjukkan bahwa sistem pendidikan Indonesia belum optimal, dalam memfasilitasi pembelajaran masyarakat Indonesia. Meskipun lembaga pendidikan terus dibangun, dan perguruan tinggi banyak yang sudah ditetapkan menjadi negeri, akan tetapi tidak dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan.

Rendahnya kualitas pendidikan Nasional, bahkan jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Vietnam masih sangat jauh tertinggal. Tentu persoalan mutu pendidikan di Tanah Air yang sampai saat ini masih terkesan jalan ditempat di sebabkan beberapa faktor, baik itu secara mikro maupun makro. Implementasi kurikulum yang sering berganti juga seakan tidak berdaya mendongkrak mutu pendidikan. Belum lagi jika kita berbicara tentang relevansi pendidikan, banyaknya lulusan SMA bahkan SMK, dan perguruan tinggi yang masih susah mendapatkan pekerjaan. Dan persoalan kesejahteraan guru juga ikut menjadi penyebab lambannya peningkatan mutu pendidikan.

Akan tetapi dari sekian banyak faktor yang muncul, ada satu hal yang mendasar lemahnya mutu pendidikan di Indonesia. Menurut Pryitno persoalan mutu pendidikan bukan hanya disebabkan oleh kurikulum yang sering berganti, sarana dan prasarana yang kurang memadai, dan gaji guru yang rendah. Tetapi lebih mendasar dari itu, ada hal lain yang paling mendasar yang perlu mendapat perhatian. Menurut Prayitno, hal yang paling mendasar tersebut adalah tidak dipraktikkannya ilmu pendidikan dan merajalelanya kecelakaan pendidikan. Berkaitan dengan tidak dipraktikkannya ilmu pendidikan (pedagogik) dalam praktik pendidikan Prayitno mengungkapkan bahwa pendidikan kita memerlukan pemenuhan basic need-nya pendidikan, yaitu ilmu pendidikan. Sejalan dengan tidak terpenuhinya basic need tersebut secara langsung mengerdilkan kehidupan pendidikan, ibarat anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya sehingga kurang gizi, terkena busung lapar, penyakitan, dan lain sebagainya.

Banyaknya para pendidikan yang tidak paham dan kurang mempraktikkan ilmu pendidikan dalam pendidikan ini banyak memunculkan beberapa kejadian yang melecehkan hakikat pendidikan itu sendiri. Inilah yang menurut Prayitno disebut sebagai kecelakaan dalam pelaksanaan pendidikan. Kecelakaan pendidikan dapat berbentuk pelecehan dan penganiayaan terhadap peserta didik yang berakibat lambatnya bahkan hilangnya kesempatan hak-hak pendidikan peserta didik. Tidak boleh masuk sekolah karena tidak bayar SPP, tidak memakai baju seragam, dimarahi dan dihukum karena terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, di skors atau dikeluarkan dari sekolah, semuanya merupakan kecelakaan dalam pendidikan.

Kedua faktor sebagaimana yang diungkapkan oleh Prayitno diatas sudah selayaknyalah menjadi perhatian yang serius bagi kita jika ingin membangun pendidikan yang berkualitas dan bermartabat. Mengingat kedua faktor tersebut sangat mendasar, maka paradigma pendidikan idealnya berorientasi pada penguatan kompetensi para pendidik secara teoritis maupun praktis yang meliputi pemenuhan ilmu pendidikan. Selain itu juga, praktik pendidikan juga seharusnya memandang sisi humanisme setiap individu (peserta didik), sehingga akan meminimalisir munculnya dehumanisasi dalam pendidikan.

B. PEMBAHASAN

1) Hakikat Ilmu Pendidikan

a. Manusia

Dalam memahami ilmu pendidikan perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu hal yang yang mendasari dari pendidikan itu sendiri atau filosofinya. Telah di paparkan dimuka bahwa, pada dasarnya pendidikan itu adalah proses pemanusiaan manusia. Jadi dalam hal ini, ilmu pendidikan tentunya diharapkan menjadi media dalam rangka proses pemanusian manusia tersebut. Atas dasar itulah, dalam memahami hakikat pendidikan perlu untuk melihat hakikat manusia juga. Karena pada dasarnya, objek daripada pendidikan itu adalah manusia.

Kajian mengenai hakikat manusia telah ada sejak dahulu. Dalam perspektif Islam, hakikat manusia dapat ditinjau dari penciptaannya yaitu, sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, dan ditinjau dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi dan berkewajiban menyembah dan beribadah hanya kepada Nya. Karena kesempurnaan manusia dengan adanya akal dan pikiran, maka mereka dapat mengenal dan mengetahui rahasia alam. Bahkan manusia juga dapat mendefenisikan dirinya sendiri. Dalam perspektif filsafat, banyak dari para filosof seperti Plato, Agustinus, Descrates, dll berusaha menemukan kebenaran tentang hakikat manusia. Berikut ini akan di paparkan beberapa hakikat tentang manusia :

b.      Menurut Plato

Manusia pada hakikatnya ditandai oleh adanya kesatuan antara apa yang ada pada dirinya, yaitu pikiran, kehendak, dan nafsu.

c.      Menurut Agustinus

Manusia merupakan kesatuan jiwa dan badan, yang dimotivasi oleh prinsip kebahagiaan, kesemuanya itu diwarnai oleh dosa warisan dari pendahulunya.

d.      Menurut Descrates.

Manusia terdiri dari unsur dualistik, jiwa dan badan. Jiwa tidak bersifat bendawi, abadi dan tidak dapat mati. Sedangkan badan yang bersifat bendawi dapat sirna dan menjadi sasaran ilmu fisika. Diantara badan dan jiwa terdapat pertentangan yang berkelanjutan tak terjembatani, badan dan jiwa itu masing-masing mewujudkan diri dalam berbagai hal sendiri-sendiri. Namun demikian, hakikat manusia adalah jiwanya.

e.      Menurut Freud

Manusia tidak memegang nasibnya sendiri. Tingkah laku manusia ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan instink-instinknya, dan dikendalikan oleh pengalaman masa lampau, dan ditentukan oleh faktor-faktor interpersonal dan intrapsikis

f.        Menurut Rogers

Manusia adalah mahluk rasional, tersosialisasikan, dan dapat menentukan nasibnya sendiri. Dalam kondisi yang memungkinkan, manusia akan mampu mengarahkan diri sendiri, maju, dan menjadi individu yang positif dan konstruktif.

g.      Menurut Skinner

Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar dirinya. Tingkah laku manusia dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungannya, melalui hukum-hukum belajar.

h.      Menurut Sartre

Manusia dipandang sebagai “nol yang menolkan diri”, pour soi yang dirinya itu bukan merupakan objek, melainkan subjek, dan secara kodrati dirinya itu adalah bebas.

Dari paparan defenisi mengenai manusia diatas, tentunya kita mendapati beragam defenisi. Dan pada dasarnya tidak ada defenisi yang pas dalam memandang apa sebenarnya hakikat manusia. Defenisi yang diungkapkan oleh para pakar diatas dirumuskan berdasarkan pengalaman dan kedalaman pengetahuan yang dimiliki oleh mereka. Dan menurut hemat penulis, dari perbedaan tersebut ada kesamaan pandangan tentang manusia, yaitu manusia adalah mahluk dualistik (punya jiwa dan raga). Selanjutnya jiwa dan raga ini berkembang dan berproses sampai pada akhirnya membentuk kepribadian manusia.

Manusia sungguh merupakan mahluk yang paripurna, hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur yang melekat pada manusia seperti, dikaruniakannya akal dan pikiran, jiwa yang positif, dan struktur fisik yang kompleks dan proporsional. Berbagai potensi yang dimiliki manusia tersebut, akan lebih bermanfaat jika manusia mengupayakan potensi tersebut kepada hal-hal yang dapat mengembangkan dirinya. Dan sarana untuk mengembangkan berbagai potensi bawaan manusia tersebut manusia secara langsung maupun tidak langsung terus berinteraksi dengan pendidikan, mulai dari lahir sampai menjelang kematiannya. Dengan manusia dapat mengoptimalkan seluruh potensi dirinya melalui pendidikan, maka kedudukan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna agaknya terpenuhi. Melalui pendidikan juga, kepribadian manusia terus ditempa sehingga menjadi manusia yang bermartabat dan berbudi pekerti luhur. Inilah yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya seperti binatang. Binatang belajar hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan biologisnya (mempertahankan diri). Akan tetapi manusia belajar tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja, akan tetapi apabila kebutuhan biologis ini telah tercapai maka manusia akan memenuhi kebutuhan lainnya seperti kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya.

b. Ilmu Pendidikan

Banyak sekali defenisi yang dirumuskan oleh para ahli dalam memandang pendidikan. Sebelum kita melihat pengertian pendidikan secara utuh ada baiknya jika terlebih dahulu melihat beberapa istilah yang sering juga muncul berkaitan dengan pendidikan itu sendiri. Istilah tersebut adalah pedagogie dan pedagogiek. Menurut Ngalim Purwanto pedagogie bermakna pendidikan, sedangkan pedagogiek berarti ilmu pendidikan. Kedua istilah tersebut terkesan punya kesamaan, akan tetapi jelas sekali punya makna yang berbeda. Dari kedua defenisi diatas, istilah yang tepat digunakan untuk menyebut ilmu pendidikan ialah pedagogiek. Makna dari pedagogiek ini sendiri dalam implementasinya akan bersifat teoritis dan praktis.

Adapun defenisi pendidikan yang lebih luas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut Kingsley Price dalam Fauzan, “education is process by which the nonphysical possesions of a culture are preserved or increased in the rearing of the young or in the instruction of adults”. (Pendidikan ialah proses dimana kekayaan budaya non fisik dipelihara atau dikembangkan dalam pengaruh anak-anak atau mengajar orang-orang dewasa). Ngalim Purwanto mendefenisikan pendidikan sebagai segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan. Menurut Webster’s New World Dictionary (1962), pendidikan adalah proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, karakter dan seterusnya, khususnya lewat persekolahan formal.

Dari defenisi mengenai pendidikan diatas maka dapat disimpulakan bahwa, pendidikan merupakan proses pendewasaan manusia atau individu yang diaktualisasikan dalam perubahan tingkah laku (kepribadian) maupun  kognitif (intelegensi) dan kesadaran diri agar menjadi manusia seutuhnya.

Jelaslah bahwa Pedagogik terbatas pada ilmu pendidikan anak atau ilmu mendidik anak. Maka timbul pertanyaan lain, kapankah seorang anak masuk dalam kawasan pedagogik? Menurut M.J. Langeveld, pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan, syaratnya yaitu terlihat pada kemampuan anak memahami bahasa, karena sebelum itu dalam pedagogik anak tidak disebut telah dididik yang ada adalah pembiasaan. Sedang batas atasnya yaitu ketika anak telah mencapai kedewasaan atau bisa disebut orang dewasa.

c. Teori –Teori Pendidikan

Berbicara mengenai pendidikan didalam aplikasinya ada banyak teori yang berkaitan dengan pendidikan, terutama teori tentang belajar. Diantara beberapa teori belajar yang telah banyak diadopsi kedalam lingkungan pendidikan ialah teori behaviorisme dan konstruktivisme.

  • Teori Belajar Behaviorisme

Tokoh yang terkenal pada teori ini adalah Ivan Pavlov. Teori ini berpandangan bahwa, perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Proses mental ini didefenisikan oleh ahli psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motiv yang kita alami namun tidak bisa dilihat dari orang lain. Proses mental antara lain pemikiran anak tentang cara membuat poster, perasaan senang guru terhadap muridnya, dan motivasi anak untuk mengontrol perilakuknya. Tokoh selanjutnya adalah Skiner yang agak berbeda pendiriannya dengan Pavlov. Ia beranggapan bahwa perilaku manusia yang dapat diamati secara langsung adalah akibat konsekuensi dari perbuatan sebelumnya. Jika konsekuensinya menyenangkan, maka hal tersebut akan diulanginya lagi. Teori ini dikenal dengan sebutan operant conditioning. Contoh, seseorang yang lapar dan makan, merasa nikmat karena kenyang, lain kali ia akan makan lagi bila lapar. Sebaliknya, apabila akibatnya tidak nikmat, maka ia akan terdorong untuk melakukannya lagi. Jika merujuk dari teori behaviorisme diatas implikasinya dalam dunia pendidikan dalam hal ini guru harus kreatif menciptakan pembelajaran, terutama menciptakan lingkungan belajar yang dapat membangun motivasi belajar peserta didik.

  • Teori Belajar Konstruktivisme

Berbeda dari pendapat behaviorisme, konstruktivisme merupakan salah satu pandangan psikologi kognitif. Menurut Bootzin, 1996 dalam Semiawan menyebutkan bahwa konstruktivisme bertolak dari pendapat bahwa belajar adalah membangun pengetahuan itu sendiri, setelah dipahami, dicernakan, dan merupakan perbuatan dari dalam diri seseorang. Dalam belajar menurut teori ini bukan apanya (isi) pembelajarannya yang penting, melainkan bagaimana mempergunakan peralatan mental kita untuk menguasai apa yang kita pelajari. Pengetahuan itu diciptakan kembali dan dibangun dalam diri seseorang melalui pengalaman, pengamatan, perencanaan, dan pemahaman.

Implikasi dari teori konstruktivisme ini telah banyak di terapkan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dalam hal ini, guru juga dituntut untuk dapat terus mendorong motivasi siswa untuk belajar mandiri dengan mendampinginya.

d. Tujuan Pendidikan

Dirumuskannya tujuan pendidikan dalam hal ini idealnya tidak hanya terbatas dalam lingkungan pendidikan formal saja, seperti sekolah, perguruan tinggi, maupun lembaga kursus. Karena jika dipahami bahwa hakikat pendidikan itu padadasarnya adalah sepanjang hayat. Oleh karenanya, tujuan pendidikan hendaknya dirumuskan tidak terbatas pada ruang dan waktu. Menurut Mudyharjo, (2001) dalam Syaiful Sagala menyebutkan tujuan pendidikan dalam arti luas mempunyai pengertian bahwa pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan tidak hanya pertumbuhan, dan tidak terbatas, tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup. Sedangkan pendidikan dalam arti sempit dapat dipahami hanya terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu. Dari pengertian diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa, tujuan pendidikan sejatinya harus dipahami secara holistik (menyeluruh). Tujuan pendidikan dirumuskan dalam situasi dan konteks tertentu. Dalam hal ini mungkin tujuan pendidikan dalam lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi sangat terbatas. Yaitu hanya terfokus pada pemenuhan materi-materi pembelajaran. Apabila materi pembelajaran tersebut telah selesai, maka tujuan pendidikan dalam arti pengajaran telah tercapai. Hal ini tentu akan berbeda jika tujuan pendidikan yang terus berlangsung didalam masyarakat, seperti mematuhinya norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga berimplikasi pada pembentukan karakter dan nilai-nilai moral pada individu dan mengamati gejala-gejala alam disekitarnya.

Plato mengatakan bahwa, tujuan pendidikan sesungguhnya adalah penyadaran terhadap self knowing dan self realization, kemudian inquiry dan reasioning and logic. Jadi disini jelas bahwa pendidikan memberikan memberikan penyadaran terhadap apa yang diketahui dirinya, kemudian penetahuan tersebut harus direalisasikan sendiri dan selanjutnya mengadakan penelitian serta mengadakan hubungan kausal, yaitu alasan dan alur pikirnya. Dalam Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Menurut Langeveld, dalam Ngalim Purwanto membagi tujuan pendidikan yang meliputi, 1) tujuan umum, 2) tujuan tak sempurna, 3) tujuan sementara, 4) tujuan perantara, dan 5) tujuan insedental. Adapun penjabaran dari masing0masing tujuan tersebut sebagai berikut :

1) Tujuan Umum

Tujuan umum ialah tujuan didalam pendidikan yang seharusnya menjadi tujuan orang tua atau pendidik lain, yang telah ditetapkan oleh pendidik dan selalu dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat pada anak didik itu sendiri dan dihubungkan dengan syarat-syarat dan alat-alat untuk mencapai tujuan umum itu.

2) Tujuan Tak Sempurna

Ialah tujuan mengenai segi-segi kepribadian manusia tertentu yang hendak dicapai dengan pendidikan itu, yaitu segi-segi yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup tertentu. Seperti keindahan, kesusilaan, keagamaan, kemasyarakatan, dan seksual.

3) Tujuan Sementara

Tujuan sementara ini merupakan tempat-tempat perhentian sementara pada jalan untuk menuju tujuan umum. Seperti anak-anak dilatih untuk belajar kebersihan, belajar bicara, dan belajar bermain bersama temannya. Contoh, kita melatih anak belajar berbicara sampai anak itu dapat berbicara. Dalam hal ini tujuan kita telah tercapai (sementara) yaitu anak dapat berbicara. Tapi tidak hanya sampai disitu tujuan kita. Anak kita ajar berbicara agar anak itu dapat berbicara dengan sopan dan baik terhadap sesama manusia.

4) Tujuan Perantara

Tujuan ini bergantung pada tujuan sementara. Umpamanya, tujuan sementara ialah anak harus belajar membaca dan menulis. Setelah ditentukan untuk apa anak membaca dan menulis itu, dapatlah sekarang berbagai macam kemungkinan untuk mencapainya itu dipandang sebagai tujuan perantara, seperti metode mengajar dan metode membaca.

5) Tujuan Insidental

Tujuan ini hanya sebagai kejadian-kejadian yang merupakan saat-saat terlepas pada jalan yang menuju tujuan umum. Contoh, seorang ayah memanggil anaknya supaya masuk kedalam rumah, agar mereka tidak menjadi terlalu lelah, ayahnya itu menuntut agar perintahnya itu ditaati. Tetapi dalam situasi yang lain, mungkin si ayah itu akan mengurangi tuntutan ketaatan itu dan hanya bersikap netral saja.

Dengan memperhtikan beberapa tujuan pendidikan tersebut, setidaknya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pendidk. Seharusnya tujuan pendidikan ini harus sudah ada pada pendidik terlebih dahulu, kira-kira mau dibawa kemana peserta didiknya, apa yang harus diajarkan, dan apa yang mesti dibimbing. Dan pelaksanaan pendidikan akan lebih terarah jika tujuan sebelumnya telah dirumuskan terlebih dahulu.

2) Urgensi Ilmu Pendidikan Bagi Guru

Salah satu faktor mundurnya kualitas pendidikan kita dan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah guru. Guru merupakan garda terdepan dalam menentukan arah dalam proses pendidikan. Guru menjadi sosok yang diteladani, dan ditiru. Kewibawaan guru juga tidak hanya dirasakan dalam pendidikan persekolahan, akan tetapi di masyarakat guru juga dianggap sebagai sosok yang dihormati dikarenakan profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Karena guru adalah salah satu elemen penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, maka peningkatan profesionalisme guru pun menjadi suatu yang mutlak untuk terus diupayakan. Dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa ada empat kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pertama, kompetensi pedagigik (menyangkut penguasaan bidang keilmuan pendidikan), kedua, kompetensi kepribadian, ketiga, kompetensi sosial, dan keempat, kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut idealnya harus dimiliki oleh guru sebagai dasar kompetensi minimal seorang guru. Dalam hal ini, penulis akan membatasi pembahasan mengenai kompetensi pedagogik saja sebagai salah satu kompetensi ilmu keguruan yang harus dimiliki guru.

Telah dijelaskan diawal bahwa, kompetensi pedagogik merupakan kompetensi dasar yang mesti dimiliki oleh guru. Walaupun kompetensi ini bersifat teoritis, akan tetapi punya peran yang signifikan dalam dunia pendidikan. Contoh, dalam kompetensi pedagogik terdapat pengetahuan tentang psikologi pendidikan, psikologi belajar, dan psikologi perkembangan. Semua cabang ilmu tersebut bermanfaat bagi guru dalam rangka mengenal karakteristik peserta didik. Dengan guru memahami ilmu tersebut setidaknya guru dapat mempertimbangkan strategi dan metode belajar yang tepat bagai peserta didik, dan juga guru dapat mendiagnosa kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik.

Adapun urgensi dari ilmu pendidikan bagi guru sebagai berikut :

a.      Mengetahui berbagai konsep, prinsip, dan teori pendidikan dalam melaksanakan praktek pendidikan.

b.      Mempunyai sikap kritis terhadap pandangan-pandangan teori pendidikan

c.      Memberikan kontribusi pada pola pikir dan pola kerja calon pendidikan.

d.      Memiliki kesiapan studi lebih lanjut.

PENUTUP

Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 mengisyaratkan bahwa pekerjaan pendidikan tidak boleh diselenggarakan dengan cara apa adanya, dalam suasana asal jadi, dan dengan hasil apapun juga yang diperoleh. Melainkan suatu upaya atau kegiatan yang diselenggarakan dengan cara-cara profesional, dalam suasana yang dibangun dengan sengaja untuk terpenuhinya standar-standar mutu dan atau norma yang ditentukan, serta dengan hasil yang bermutu tinggi dalam kategori optimal berkenaan dengan pengembangan peserta didik.

Walaupun ilmu pendidikan terkesan terlalu teoritis, dan banyak juga sebagian dari guru yang tidak punya latar belakang keilmuan pendidikan dapat berhasil dalam mengajar, akan tetapi kompetensi tentang keilmuan pendidikan ini sangatlah penting. Setidaknya guru paham akan kaidah-kaidah dalam dunia pendidikan yang nantinya akan dipraktikkan ketika mereka mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Fauzan, Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional, (Yogyakarta : Pustaka Fahima, 2007)

Moh. Sochib, Mengembalikan Pendidikan Sebagai Hak Asasi Manusia, dalam Jurnal Konstitusi Vol.3 no.1, (Jakarta : Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2006)

Prayitno, Pendidikan Dasar Teori dan Praksis, (Padang : UNP Press, 2009)

Sukarjo dan Ukim Komarudin, Landasan Pendidikan : Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta : PT. Rajawali Pers, 2009)

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1994)

Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teori dan Praktis, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2007)

Syaiful Sagala, Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, 2009)

John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, terjemahan Tri Wibowo B.S, edisi kedua, (Jakarta : Kencana, 2008)

Conny R. Semiawan, Landasan Pembelajaran Dalam Perkembangan Manusia, (Jakarta : Pusat Pengembangan Kemampuan Manusia, 2007)

Tim Redaksi Fokus Media, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung : Fokus Media, 2006)

http://elsgirl91.wordpress.com, diakses tanggal 22 Agustus 2010

http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com, diakses tanggal 9 Agustus 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s