Mewujudkan Pers Mahasiswa Bangka Belitung


There are only two things that can be lightening the world. The sun light in the sky and the press in the earth. (Mark Twain)
Kalau kita resapi ungkapan Mark Twain diatas, tidaklah berlebihan adanya bahwa hanya ada dua hal yang bisa membuat terang bumi ini, yakni sinar matahari dilangit dan pers yang tumbuh berkembang di bumi ini.

Pers sendiri memang tidak bisa dipisahkan kaitannya dengan macam ragam informasi yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani peradabannya. Mulai dari persoalan corak warna hidup sampai hal yang detail sekalipun tentang sebuah eksistensi kehidupan.

Dalam peradaban manusia, pers mempunyai fungsi yang penting. Mulai dari education function (fungsi pendidikan), information (sumber informasi), intertainment (hiburan) dan social control (fungsi kontrol sosial).

Sehingga wajar kalau kita melihat pers menjadi suatu kebutuhan dan menyebabkan “momok” bagi negara yang menerapkan sistem outhoritarian. Pers menjadi kekuatan maha dahsyat yang dapat menggerakkan siapa saja untuk berbuat seperti yang kita kehendaki atau sekedar mempengaruhi/menciptakan public opinion (komunikasi massa). Dan, pers sendiri terlanjur menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi, di negara under developed atau new born countries seperti Indonesia, negara yang masih memerlukan banyak perbaikan sistem di semua lini. Pers sangat dibutuhkan  peranannya dalam mengisi ruang-ruang yang tidak terjamah oleh “institusi” lainnya, baik yang bersifat informasi, tempat penemuan ide-ide, atau berposisi sebagai kontrol sosial terhadap segala kebijakan yang diambil dan diterapkan oleh pemerintah.

Kalau kita cermati, pers mahasiswa mengandung dua unsur kata yakni pers dan mahasiswa. Pers berarti segala macam media komunikasi yang ada. Meliputi media buku, majalah, koran, buIetin, radio ataupun televisi serta kantor berita. Dan, pers itu sendiri identik dengan berita (news). News berkaitan dengan North, East, West dan South, yang artinya suatu kabar atau berita dan informasi yang datangnya dari empat arah penjuru mata angin (berbagai tempat). Oleh karena itu, pers/news harus mengandung suatu unsur publisitas (tersebar luas dan terbuka), aktualita (hangat dan baru) dan periodesita (harian, mingguan atau bulanan).

Mahasiswa sendiri mempunyai definisi kalangan muda yang berumur antara 19-28 tahun yamh sedang dalam fase perubahan. Mahasiswa bisa juga diartikan suatu kelompok elit marjinal dalam lingkungan suatu dilema. Sosok Mahasiswa kental dengan nuansa kedinamisan dan sikap keilmuannya yang dalam melihat sesuatu berdasarkan kenyataan obyektif sistematis dan rasional. Disamping itu, Mahasiswa merupakan suatu kelompok masyarakat pemuda yang mengenyam pendidikan tinggi, tata nilai kepemudaan dan disiplin ilmu yang jelas sehingga hal ini menyebabkan keberanian dalam merefleksikan kenyataan hidup di masyarakat. Dan tata nilai itulah yang menyebabkan radikal, kritis, dan emosional dan secara perlahan menuju suatu peradaban/kultur baru yang signifikan dengan hal-hal yang bemuansa aktif, dinamis dan senang pada perubahan.

Dari dasar inilah, bisa dilihat ciri khas mahasiswa sebagai pengelola pers mahasiswa berbeda dengan pers umum.
Pers mahasiswa merupakan suatu alat perjuangan bagi kaum aktivis gerakan mahasiswa, corong kekuatan dalam menyalurkan aspirasi kritis seorang tunas bangsa, dan kita akan melihat hubungan diantara keduannya sangat erat.

Diakui atau tidak, secara kualitas maupun kuantitas mahasiswa Bangka Belitung masih jauh tertinggal dengan beberapa mahasiswa yang berada di luar Babel, dalam arti kata bahwa secara kuantitas jumlah mahasiswa Babel tergolong masih sedikit. Bahkan setiap tahunnya para pelajar Babel masih enggan untuk memilih perguruan tinggi di Babel sendiri dikarenakan keterbatasan perguruan tinggi yang dimiliki.

Dan secara kualitas, mahasiswa yang kuliah di Babel masih kurang menunjukkan eksistensinya sebagai mahasiswa. Mulai dari pergerakannya sebagai agent of social control dan kaum intelektual muda, yang tidak hanya mengembangkan ilmu hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga terhadap masyarakat melalui aktivitas-aktivitas keilmuan dan juga pengabdian kepada masyarakat. Berbicara Pers Mahasiswa di Babel, belum ada organisasi yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa. Sangat disayangkan jika mahasiswa di Babel tidak berfikir untuk bersatu memunculkan aktivitas pers mahasiswa yang pada dasarnya mempunyai visi dan misi mulia sebagai agen kontrol sosial.

Dari Workshop Pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh P3M STAIN Babel bekerjasama dengan Bangka Pos yang baru-baru ini penulis ikuti, ada keinginan agar mahasiswa di Bangka Belitung bersatu membentuk Lembaga Pers Mahasiswa yang setidaknya menjadi simbol identitas mahasiswa Babel, sehingga tidak dipandang sebelah mata oleh beberapa pergerakan mahasiswa ditempat lain. Mungkin angan-angan ini terlalu tinggi kedengarannya, tapi apa yang tidak mungkin didunia ini. Semua bisa kita capai dengan i’tikad dan usaha yang kuat. Sudah cukup kita diremehkan oleh beberapa pernyataan miris mengenai kondisi mahasiswa kita bagaikan macan yang tak punya taring dan asumsi masyarakat yang menilai bahwa kuliah di Babel kurang menjanjikan buat masa depan.

Sudah saatnya kita tunjukkan mahasiswa di Babel bisa berkarya melaui ide-ide kreatif teman-teman mahasiswa yang dimanifestasikan melalui kegiatan Pers Mahasiswa dan sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam rangka mensukseskan percepatan pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini. Dengan begitu, dinamisasi aktivitas kemahasiswaan di Babel akan terus tumbuh dan diharapkan menjadi bentuk pergerakan dan citra positif pemuda Babel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s