KONDISI OBJEKTIF MAHASISWA STAIN SAS BANGKA BELITUNG


A. PENDAHULUAN

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung secara geografis terletak di Desa Petaling Kec. Mendobarat Kabupaten Bangka. Eksistensi STAIN ditengah-tengah masyarakat Mendo Barat mempunyai peran strategis dalam membina dan dan membangun masyarakat. Tipologi masyarakat Mendo Barat yang religius sangat memungkinkan bagi STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik untuk bersinergi dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai Islam yang sudah tertanam dalam masyarakat. Akan tetapi kita berharap, eksistensi STAIN tidak hanya dirasakan oleh masyarakat mendo barat khususnya, akan tetapi pada masyarakat Bangka Belitung umumnya.

Kecamatan Mendo Barat selain dikenal sebagai masyarakat yang religius, daerah ini juga sering disebut-sebut sebagai kota santri. Tidak heran jika banyak para santri atau pelajar yang datang untuk sekolah bahkan “ mondok “ (belajar agama di pesantren) yang memang secara kuantitatif relatif banyak. Termasuk juga para mahasiswa STAIN yang datang dari berbagai daerah di Bangka Belitung.

Kondisi obyektif yang mencakup latar belakang sosial budaya, aktivitas, dan kondisi individu mahasiswa sangat penting untuk diketahui. Dengan mengetahui kondisi obyektif mahasiswa STAIN maka diharapkan dapat merumuskan beberapa strategi pembinaan mahasiswa dengan menentukan aktivitas atau kegiatan kemahasiswaan yang tepat. Singkatnya, capaian tujuan dari pengembangan kegiatan kemahasiswaan turut ditentukan oleh konsep dan strategi pembinaan kemahasiswaan yang dapat mengakomodir berbagai potensi yang ada dalam keanekaragaman karakter mahasiswa STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Oleh karena itu, penulis menganggap penting untuk melakukan survey kepada mahasiswa STAIN program Reguler TA. 2009/2010 mulai dari semester I sampai IX. Jumlah sampel 350 mahasiswa dari ±700 mahasiswa dengan margin eror 1 %.

B. Latar Belakang Mahasiswa STAIN SAS Babel

1. Asal Sekolah

Asal sekolah mahasiswa STAIN SAS Babel beragam, mulai dari Madrasah/pesantren, SMA, dan SMK baik dari dalam provinsi maupun luar provinsi Babel. Walaupun STAIN basisnya adalah perguruan tinggi agama Islam, tapi mahasiswa yang berasal dari non Madrasah/Pesantren lumayan banyak, yaitu 37 %. Hal ini dimungkinkan karena sejak tahun akademik 2008/2009 STAIN membuka tiga prodi baru yaitu bahasa inggris, PGRA, dan ekonomi syari`ah. Dengan adanya ketiga prodi baru inilah sedikit banyak telah mengundang calon mahasiswa yang berasal dari SMA dan SMK untuk memilih kuliah di STAIN.

2. Sebaran Mahasiswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ayah

a) Tidak Tamat SD                  = 18 %

b) SD Sederajat                       = 34 %

c) SMP Sederajat                    = 13 %

d) SMA Sederajat                   = 24 %

e) Diploma                              = 6 %

f) Sarjana/Pasca                       = 5 %

3. Sebaran Mahasiswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu

a) Tidak Tamat SD                  = 26 %

b) SD Sederajat                       = 44 %

c) SMP Sederajat                    = 11 %

d) SMA Sederajat                   = 15 %

e) Diploma                              = 3 %

f) Sarjana/Pasca                       = 1 %

Dengan dibukanya prodi baru seperti Bahasa Inggris, PGRA, dan Ekonomi Syari`ah, dimungkinkan kedepan jumlah calon mahasiswa yang berasal dari SMA maupun SMK akan terus meningkat. Fenomena ini juga sedikit banyak disebabkan karena masyarakat (calon mahasiswa) cenderung apatis dengan Output/Outcome yang dihasilkan oleh pendidikan Islam akhir-akhir ini mengalami penurunan. Singkatnya, dikotomi pendidikan saat ini masih sangat terasa dan belum terselesaikan. Pendidikan orang tua yang sebagian besar hanya tamat Sekolah Dasar (SD), diharapkan tidak menurunkan motivasi mahasiswa untuk belajar lebih giat lagi. Dan tentunya data ini setidaknya telah mengindikasikan adanya perubahan paradigma sebagian besar orang tua mahasiswa bahwa, dewasa ini pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting. Oleh karena itu, berbagai cara dilakukan orang tua untuk terus menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi dengan harapan dapat meningkatkan taraf hidup didalam keluarga.

B. Kondisi Ekonomi Mahasiswa STAIN SAS Babel

Kondisi ekonomi mahasiswa STAIN SAS Babel dapat dilihat dari tanggungan biaya kuliah, pekerjaan orang tua, jumlah uang saku per bulan diluar biaya SPP, dan mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Berdasarkan hasil survey sebagian besar pekerjaan orang tua mahasisswa STAIN adalah sebagai petani, yaitu mencapai 43 %, wiraswasta 17 %, TNI/POLRI 1 %, PNS 14 %, buruh harian 16 %, dan bekerja dalam bidang yang lain 9 %. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pada dasarnya biaya kuliah di STAIN rata-rata dapat dijangkau oleh mahasiswa yang orang tuanya bekerja sebagai petani ataupun buruh harian sekalipun. Untuk biaya kuliah mahasiswa STAIN 74 % ditanggung oleh orang tua, 12 % oleh keluaraga/family, 9 % dari beasiswa, dan 5 % biaya sendiri. Fenomena lain yang dapat kita lihat dari data hasil survey ini  bahwa hanya sedikit mahaaiswa yang membiayai kuliah mereka dengan uang sendiri, atau tidak bekerja sambil kuliah. Fenomena ini seharusnya juga dapat diimbangi oleh meningkatnya prestasi belajar mahasiswa, karena sebagian besar mahasiswa STAIN fokus terhadap kuliah.

Latar belakang profesi pekerjaan orang tua juga ternyata berpengaruh dengan uang saku yang dikirim oleh orang tua yang berprofesi sebagai petani yaitu rata-rata tiap bulan orang tua memberikan uang saku sebesar < Rp. 500.000. Angka ini wajar, karena tingkat pendapatan atau perekonomian keluarga yang orang tuanya bekerja sebagai petani cenderung kecil dan tidak menentu. Data survey juga menunjukkan bahwa kecendrungan mahasiswa STAIN khususnya pada program regular mengutamakan kuliah disbanding kerja. Walaupun ada, hal ini dikarenakan karena kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan, mahasiswa yang bersangkutan adalah seorang perantauan, atau bahkan tinggal bersama family. Jadi, di kampus STAIN fenomena mahasiswa yang memanfaatkan waktu untuk kerja boleh dibilang tidak ada. Hanya 22 % mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, sedangkan yang hanya kuliah saja sangat besar yaitu 78 %. Hal ini juga dikarenakan tidak adanya kebijakan kampus yang memberlakukan kuliah sore dan malam, sehingga mahasiswa sulit mengatur waktu untuk cari kerja. Dari data hasil survey tersebut setidaknya dapat diambil beberapa rekomendasi penting yaitu, 1) latar belakang pekerjaan orang tua yang sebagian besar sebagai petani dan berpenghasilan tidak menentu seharusnya diimbangi oleh mahasiswa dengan belajar lebih tekun untuk mendapatkan prestasi kuliah yang optimal dengan mendapat beasiswa. Dengan begitu, beban orang tua menjadi sedikit lebih ringan untuk membiayai kuliah. 2) STAIN dalam hal ini, juga perlu mengeluarkan kebijakan untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang kurang mampu, akan tetapi punya prestasi baik.

C. Aktivitas Organisasi Mahasiswa

Aktivitas belajar di perguruan tinggi tidak hanya terfokus pada belajar An sich!, akan tetapi keberhasilan belajar di perguruan tinggi juga sedikit banyak dipengaruhi oleh aktivitas mahasiswa selain belajar, seperti bergabung dalam kegiatan organisasi intra maupun ekstra kampus. Beberapa organisasi intra kampus yang terdapat di kampus STAIN seperti, BEM, HMJ, dan UKM. Selain itu mahasiswa STAIN juga ada yang bergabung di organisasi ekstra kampus seperti, HMI dan PMII. Aktivitas ataupun kegiatan organisasi mahasiswa khususnya di lingkungan kampus STAIN sendiri sampai saat ini masih belum menunjukkan dinamikanya. Walaupun ada sebagian organisasi yang eksis melakukan kegiatan-kegiatannya, akan tetapi belum sepenuhnya terasa. Dari data hasil survey memperlihatkan bahwa, 58 % mahasiswa STAIN mengikuti atau pernah bergabung dalam organisasi. Dan 42 % mahasiswa STAIN tidak mengikuti dan belum pernah bergabung dalam kegitan organisasi intra maupun ekstra kampus.

Banyaknya mahasiswa STAIN yang bergabung dalam oraganisasi ternyata dilator belakangi ingin menambah pengalaman dan hanya sekedar mengisi waktu luang. Data survey memperlihatkan, 56 % mahasiswa mengikuti organisasi karena ingin menambah pengalaman dan 8 % yang hanya mengisi waktu luang. Dari angka ini dapat dilihat bahwa, aktivitas mahasiswa STAIN dalam berorganisasi sangat tinggi. Mahasiswa STAIN saat ini masih melihat organisasi sebagai salah satu kegiatan kampus yang penting untuk diikuti. Selain untuk mengisi waktu luang, mahasiswa juga dapat menimba banyak pengalaman dari aktivitas organisasi. Jika fenomena ini terus berlangsung, maka hal ini akan berdampak positif terhadap dinamika kehidupan kampus. Dengan begitu, mahasiswa tidak menganggap kampus sebagai penjara yang mengharuskan mahasiswa untuk terus belajar, tetapi kampus juga sebagai tempat untuk menumbuhkan potensi dan kreativitas mahasiswa.

D.   Mahasiswa STAIN Berdasarkan Prestasi

Tugas utama mahasiswa adalah belajar dan mengembangkan potensi intelektual mereka. Ukuran prestasi mahasiswa didalam belejar di kampus biasanya ditunjukkan melalui nilai Indeks Prestasi Komulatif (IPK) yang baik. Sebagian perguruan tinggi telah menetapkan standar minimal prestasi mahasiswa melalui IPK tersebut, dan umumnya standar anam untuk nilai IPK adalah 3,00 atau lebih. Dari data survey yang dilakukan pada mahasiswa semester III keatas dengan IPK terakhir didapat angka yang lumayan bagus. 39 % mahasiswa STAIN memiliki IPK 3.00 – 3.49 dan hanya 1 % mahasiswa yang memiliki nilai IPK dibawah 3.00. Dari hasil tersebut dapat kita lihat bahwa, walaupun mahasiswa STAIN banyak yang bergabung dalam aktivitas organisasi tidak terpengaruh pada prestasi belajar mahasiswa dengan menunjukkan nilai IPK yang bagus, yaitu diatas 3.00. Dan tentunya, prestasi ini terus ditingkatkan lebih baik, karena saat ini nilai IPK mahasiswa diatas 3.50 baru 9 %.

E.   Mahasiswa berdasarkan motivasi masuk STAIN

Salah satu kesuksesan seseorang dapat dilihat dari seberapa besar motivasi mereka dan berusaha untuk menjadikan motivasi tersebut sebagai komitmen. Beragam motif para calon mahasiswa yang memilih untuk kuliah di STAIN, mulai dari ingin menjadi ahli agama atau memperdalam ilmu agama, dorongan orang tua, dorongan teman, gagal UMPTN, dan sebagai batu loncatan. Dari hasil survey yang dilakukan, ternyata kecendrungan calon mahasiswa yang masuk ke STAIN masih didominasi oleh keinginan untuk mempelajari agama Islam lebih dalam. Hal ini dimungkinkan karena memang sebaran mahasiswa yang berasal dari madarasah atau pesantren lebih banyak daripada SMA/SMK. Akan tetapi, jika kita lihat angka survey berdasarkan asal sekolah untuk SMA lumayan banyak. Hal inilah yang menunjukkan sebagian besar calon mahasiswa masuk ke STAIN karena termotivasi ingin mempelajari agama lebih dalam.

F.   Mahasiswa Berdasarkan Tempat Tinggal (KOS)

Tempat tinggal (KOS) mahasiswa STAIN tersebar dibeberapa daerah seperti, pangkalpinang, kace, sleman, petaling, dan lain-lain. Sebagian mahasiswa yang tidak tinggal di keempat daerah tersebut mereka tersebar di beberapa daerah seperti sungailiat, kemuja, mendo, dll yang masih berada pada kabupaten Bangka induk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s