CATATAN UN


UNTUK menciptakan mutu pendidikan nasional perlu dilakukan beberapa inovasi baru dalam dunia pendidikan. Secara teoritis, banyak gagasan-gagasan baru yang dimunculakan dalam pendidikan nasional kita. Akan tetapi pada tataran praktis, upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sampai saat ini tak kunjung membuahkan hasil yang memuaskan, malah menuai banyak kritikan.

Salah satu contoh kebijakan pemerintah yang sampai saat ini terus menuai kontroversi adalah penyelenggaraan Ujian Nasional (UN). Tulisan ini saya buat untuk memberikan sumbangsih pemikiran dan sekaligus menanggapi tulisan Bapak Asyraf Suryadin yang berjudul UN: Siapa takut? beberapa waktu lalu. Disatu sisi saya sepakat dengan pendapat Bapak Asyraf Suryadin bahwa UN tidak perlu ditakuti, bahkan sebagian pendapat pro lainnya yang mengatakan, dengan UN peserta didik dapat lebih terpacu untuk giat belajar. Tetapi jika kita telaah lebih dalam penyelenggaraan UN lebih banyak menimbulkan dampak negatif ketimbang dampak positifnya.

Kelemahan UN

Para pendukung dilaksanakannya UN sebagai penentu kelulusan antara lain berargumen, bila tanpa UN peserta didik cenderung malas belajar. Dengan kata lain, UN adalah pemicu anak untuk belajar keras. Pendapat ini memang ada benarnya juga, sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Benjamin S. Bloom, ditemukan bahwa tingkah laku belajar siswa akan dipengaruhi oleh apa yang akan dinilai atau dievaluasi.

Jadi pada umumnya mereka akan belajar kalau mau diuji. Inilah yang pada akhirnya akan melahirkan “budaya kerja borongan”, yaitu baru sibuk dan bekerja keras kalau mau diperiksa atau deadline laporan harus selesai.
Pada titik inilah akan dikhawatirkan terjadi berbagai upaya yang seringkali berdampak negatif. Singkatnya berbagai cara dan upaya dilakukan untuk dapat meluluskan siswa, apalagi jika sekolah sudah punya citra positif di masyarakat. Dilema ini seringkali sulit bagi sekolah untuk berada pada posisi netral.

UN umumnya hanya menguji ranah kognitif pada setiap mata pelajaran, sehingga menjadikan peserta didik merasa tidak perlu melakukan eksperimen di laboratorium, tidak perlu membaca novel, tidak perlu latihan mengarang, dan berdisiplin dalam berbagai kegiatan belajar yang hakikatnya diarahkan untuk menanamkan nilai dan mengembangkan sikap, karena kesemuanya itu tidak dijujikan. Aspek psikomotorik (kreativitas) dan aspek afektif (sikap/moral) peserta didik tidak dipertimbangkan dalam proses evaluasi, yang berarti proses evaluasi pendidikan tidak komprehensif. Sehingga praktis munculnya lembaga bimbingan tes, lembaga yang membuat sekolah tidak lagi sebagai pusat pembudayaan. Dan hal ini tentu tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang sesungguhnya sebagaimana yang diungkapkan oleh Paulo Freire, seorang pakar pendidikan dari Bazril yang melihat pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia (pendidikan demokratis).

Maka sekali lagi, saya tidak sependapat jika UN digunakan sebagai penentu kelulusan siswa, apalagi dijadikan sebagai indikator peningkatan mutu pendidikan nasional. Penyelenggaraan UN telah mengeyampingkan fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dalam. Padalah menurut Prof. DR. Soedijarto suatu pendidikan dikatakan bermutu, diukur dari perannya dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional, adalah pendidikan yang berhasil membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, bermoral, dan berkepribadian. Dalam bahasa UNESCO (1996) mampu “moulding the character and mind of young generation”.

Tidak Mengenal UN

Sebagai lawan dari penyelenggaraan pendidikan yang menjadikan pendidikan hanya sebagai sarana untuk memilih dan memilah (tanpa melihat keragaman potensi peserta didik), negara seperti Amerika dan Jerman tidak mengenal UN untuk memilih dan memilah. Mereka sangat menghargai keberagaman bakat dan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Tetapi kebijakan yang diutamakan adalah membantu peserta didik dapat berkembang secara optimal.

Untuk membantu perkembangan bakat dan potensi peserta didik secara optimal ini, lebih lanjut Prof DR. Soedijarto mengungkapkan beberapa aspek model pembelajaran yang dikembangkan oleh negara-negara maju seperti Amerika dan Jerman, yaitu: 1) menyediakan guru profesional, yang seluruh waktunya dicurahkan untuk menjadi pendidik, 2) menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik belajar dengan penuh kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang bermain yang memadai dan ruang kerja guru, 3) menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik terus menerus belajar dengan membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan (termasuk novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan yang memungkinkan peserta didik belajar sampai pada tingkatan menikmati belajar, 4) evaluasi yang terus menerus, komprehensif, dan objektif.

Poin terakhir inilah yang dalam pandangan saya berdasarkan penelitian dapat menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan dan nilai seperti etos kerja, kedisiplinan, kejujuran, serta moral. Melalui model pembelajaran inilah, peserta didik setiap saat dinilai tingkah lakunya, kesungguhan belajarnya, hasil belajarnya, kemampuan intelektualnya, dan partisipasinya. Model pendidikan seperti ini akan mampu menghasilkan rakyat yang beretos kerja tinggi, peduli pada mutu, dan gemar belajar.

Secara ringkas kiranya dapat disimpulkan bahwa UN tidak dapat menjadi penentu kelulusan peserta didik dan sekaligus sebagai penentu meningkatnya mutu pendidikan nasional. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Winarno bahwa, UN itu hanya dapat digunakan untuk : 1) memperoleh peta mutu hasil belajar pada tiga mata pelajaran yang diujikan, sebagai dasar untuk melakukan serangkaian perbaikan dan pembaharuan, 2) menentukan lulusan SMA yang dapat melanjutkan pendidikan ke universitas, dan 3) menentukan lulusan SMP yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

Membiarkan UN tetap ada berarti secara perlahan kita telah memasung hak kebebasan berfikir peserta didik yang ingin mengembangkan bakat dan potensi mereka. Kita semua tentu sangat berharap kepada pemerintah akan adanya perubahan sistem pendidikan nasional yang benar-benar berorientasi pada mutu dan martabat bangsa.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s